Abu-abu Lagi

kenapa semuanya menjadi abu-abu kembali? kenapa ketika melihat kembali ke masa itu terasa sangat semakin jelas. Nyata. Yang aku tahu pasti aku harus segera beranjak dari warna ini. Keabu-abuan ini. dan harus segera perlahan merubah warna. Keep it low, jangan grasak-grusuk. Jangan terlalu cepat. Jangan terlalu konstan. Kita percaya akan mendapat terang dan indah pada waktunya.

Takut, Air, & Satelit Mati

Rasa takut ternyata memiliki magnet sama besar dengan rasa suka, sama halnya namun beda kaitan dengan air. Segelas air. Jika kita menanyakan sebuah pertanyaan pada segelas air, “air apakah kamu?”. Tentu air tersebut dapat menjawab, air sungai, atau air laut, atau air ledeng, atau air apapun yang ia mau. Namun, tidak ada salahnya jika air tersebut hanya menjawab. Air. Saja.

Kita berdua sama, satelit-satelit yang tidak menghasilkan cahaya. Kapankah kau akan menyadari bahwa kau adalah Bulan yang hanya meminjam terang Matahari agar bersinar di malam gelap. Akulah Mataharinya.

Tapi Aku Tahu Apa Yang Kulakukan

Aku tidak sama sekali mengerti jalan pemikiranku sendiri, namun tubuh ini sepertinya sudah berkonspirasi dengan pemikiranku. saat ini aku berada 150KM jauhnya dari rumah, apa yang membuat kesini, sepertinya akupun tidak tahu. Namun, aku tahu apa yang sedang kulakukan. Sendiri. Menikmati nikmatnya sore dengan segelas teh manis hangat buatan warung asal tegal tapi dengan penjual orang pasundan. Bebas. Itu yang dirasa. Bagai burung yang dilepas setelah dikurung didalam kandang yang dilabeli dengan cinta. Namun, apa yang kucari? Aku tidak tahu. Sekali lagi. Aku tidak Tahu. Tapi aku tahu persis apa yang aku lakukan.

Embun Pertama

Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak ber-ujungku mengenal hidup. Engkaulah setetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara. Engkaulah matahari firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara.

Kau hadir dengan ketiadaan. Sederhana dalam ketidak mengertian. Gerakmu tiada pasti. Namun aku terus disini. Mencintaimu.

Naga Bodoh

Layaknya naga yang ribuan abad berputar sirkular hanya untuk menemukan ekornya sendiri. Menjilatnya. Menelannya. Menjadi cincin yang tak berujung pangkal. Sementara jasad ini, artefak yang dihasilkan ruang dan waktu, menguap. Berganti bahasa. Bahasa Cahaya. Tak ada kata.

Lubang

Hidup adalah cerminan akan kemunafikan, dan penuh akan intrik. saat ketika semuanya berjalan sesuai rencana awal, kita tidak akan tahu yg akan kita hadapi tapi kita tahu apa yang kita hadapi disaat itu. Menghadapi hal tersebut membuat kita lupa akan arah, lupa akan apa yang kita miliki untuk bersama, lupa akan janji yang telah kita kaitkan dengan kelingking bersama. Bodoh memang jatuh ke lubang yang sama untuk berkali-kali, namun itulah sifat dasar manusia yang perlu dikembangkan, dilatih, ditempa agar kebodohan itu berangsur-angsur sirna. Aku? Aku adalah bagian dari orang bodoh tersebut, dan aku telah jatuh ke lubang yang sama untuk berkali-kali, namun aku tidak menyerah, aku tidak takut akan seberapa tinggi lubang yang aku jatuhi aku akan mencoba untuk naik kembali ke permukaan. Namun, adakalanya kita tidak tahu bahwa kita telah melakukan kebodohan. Menggali lubang untuk diriku sendiri yang pada awalnya aku berfikir akan menjadi hal yang bagus, adalah kebodohan yang aku lakukan belakangan ini. Ketika menyadari, meresapi, aku kembali sadar untuk yang kesekian kalinya, bahwa memiliki sesuatu yang sangat berarti memang penuh akan cobaan, penuh akan lubang, bahkan lubang yang telah kita gali sendiri. Menyadari hal itu, mungkin aku akan diam. Mendapatkan kembali apa yang telah disia-siakan, sepertinya hanya angan belaka. Ketika semuanya menjadi terdiam, sunyi, disitulah keadaan dimana kita semakin merasa bersalah.

Untuk kamu dan hanya untuk kamu.

A.

Melengos Sendiri ke Borneo

Perjalanan dimulai

9 September 2014 (13.41) dianter sama keluarga ke stasiun Tanjung Priok dimana KA Kertajaya yg bakal gw taikin. Umi, abi, kak lia, arya, audira ikut nganterin dan udah biasa sebelum jalan nyokap/umi selalu nyium kening gw biar selamat sampai tujuan, malu juga sih di liatin sama orang2 yg saat itu ada di stasiun tp ya mau gimana namanya orang tua. Jam 12.45 gw boarding dan nyempetin diri untuk sholat Zuhur dan Ashar jam 13.10 gw udah duduk manis di KA Kertajaya gerbong 2 seat 17D. KA Kertajaya harganya 50.000 dengan relasi Tj. Priok – Surabaya Pasar Turi, gw pikir dengan harga segitu worth it banget dengan keadaan kereta dan gerbong dalemnya yg bersih, kamar mandinya wangi airnya lancar, dapet

Continue reading “Melengos Sendiri ke Borneo”

Merangkai Persahabatan di Atas Awan Cikuray

16 Februari 2014 merupakan waktu yang ditunggu-tunggu dalam bulan februari ini, karena hari itu gw dan sahabat-sahabat gw di SWANARAPALA (mahasiswa bina nusantara pecinta alam) akan mendaki gunung bareng. setelah resmi ngedapetin slayer dan resmi jadi anggota muda SWANARAPALA, ini merupakan momen pertama yang akan dijalanin dengan angkatan baru kita yang dinamain Rana Mandala oleh para anggota tetap senior.

Bermula dengan obrolan sederhana dan ajak-ajakan teman-teman di chat grup anggota muda baru SWANARAPALA, Rana Mandala, yang mau naik gunung bareng ber-21 (jumlah anggota muda baru SWANARAPALA). setelah melalui banyak obrolan kemudian kami tetapkan gunung yang akan didaki adalah gunung Cikuray di Garut, Jawa Barat yang pada akhirnya dari 21 orang yang bisa ikut hanya 13 orang dikarenakan ada hal lain yang perlu dikerjakan dijakarta.

Continue reading “Merangkai Persahabatan di Atas Awan Cikuray”

Success Secret in Life

When i woke up this morning lying in bed, i was asking myself : “what are some of the success in life?”, i them found the answer right in my room.
The AC said – be cool.
The roof said – aim high.
The mirror said – reflect before you act.
The window said – see the world.
The clock said – every minute is precious.
The calendar said – be up to date.
The door said – push hard for ur goals.
And don’t forget, the carpet said – kneel down and pray.
Carry a heart that never hates,
Carry a smile that never fades,
And carry a touch that never hurts.

View on Path

Turing ke Majalengka, Gunung Batu Tilu

Turing ini sebenernya dijalanin sebelum pergi ke Dieng, lebih tepatnya di bulan juni sekitar tanggal 5. Turing ini gw jalanin sama 5 sahabat dari OSIS SMK gw Latifah, Deli, Asri, Arrika, Rido.  dilandasi dengan kejenuhan dan mau berlibur, dengan tujuan silaturahmi sekaligus bermalam di rumah bibi dari Asri di daerah majalengka, masih perbatasan sedikit sama sumedang. bermodalkan 3 motor, kita START dari rumah gw sore hari sekitar jam 3 karena kami pikir enak kalo jalan malem, adem. kita ambil trek lewat cikampek – purwakarta – subang – sumedang – majalengka. yang kira-kira nempuh waktu selama 9 jam lebih perjalanan di motor, gw sama Asri, Deli sama Rido, dan Latifah sama Arrika. gw disini jadi RC (Road Captain) di trek Jakarta – Cikampek, dari Cikampek – Purwakarta gw biarin si Rido jadi RC, karena hari udah mulai malam dan untuk menstabilkan speed juga karena gw bawa motor terlalu kenceng kata temen-temen.

Continue reading “Turing ke Majalengka, Gunung Batu Tilu”